Tampilkan postingan dengan label Kisah Trader. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Trader. Tampilkan semua postingan

Tips Trading Jangka Pendek Dari Barbara Rockefeller

Apa yang ada dibenak Anda kala mendengar nama "trading jangka pendek?" Bahwa itu jalan cepat meraih profit? Gaya trading para pemula? Cara trading beresiko tinggi? Jika ya, maka Anda tidak sepenuhnya salah. Sudah banyak artikel mengulas segala sisi metode trading itu, mulai dari kelebihannya, salah satu teknik paling populernya (scalping), hingga bahaya dan resikonya. Dari hampir semua wacana mengenai trading jangka pendek, seringkali diungkap kekurangan metode ini sebagai cara trading beresiko tinggi, menguras waktu, dan rawan unsur coba-coba.

Namun pernahkah Anda mempertimbangkan penggunaan strategi trading jangka pendek dari kacamata kebutuhan? Inilah topik yang dibawakan Barbara Rockefeller, seorang trader forex wanita sukses, dalam kolomnya di buku High Profits in High Heels. Menurutnya, seorang trader retail tak perlu menampik kenyataan jika memang modalnya belum cukup memenuhi kondisi trading jangka panjang. Memilih time frame rendah untuk kemudian mengolah cara trading jangka pendek bukanlah tindakan memalukan apalagi sebuah "dosa", terutama jika memang gaya seperti itulah yang cocok dengan kondisi Anda. Ia membeberkan 5 poin penting dalam berkarir sebagai trader jangka pendek. Tapi sebelum mengungkap kiat-kiatnya, mari kita mengenal lebih dekat dulu sosok Barbara Rockefeller.

barbara rockefeller

Barbara Si Realistis

Berpengalaman lebih dari 20 tahun di dunia finansial, Barbara Rockefeller memulai karirnya di bank. Lulusan Columbia University ini pernah bekerja di Citibank sebagai senior risk manager di divisi internasional. Ia kini aktif sebagai penulis, trader forex, dan penerbit newsletter harian. Salah satu newsletter-nya, Daily Currency Briefing, berisi sinopsis event penting dan prediksi forex yang dikonsumsi bank-bank sentral, fund manager, dan perusahaan multinasional. Karya populernya adalah buku Technical Analysis for Dummies (2004), salah satu panduan wajib untuk teknikalis pemula dan kini sudah terbit hingga beberapa edisi.

Trader wanita satu ini sangat realistis dalam memaparkan tips-tipsnya di High Profit in High Heels, buku kompilasi yang sebelumnya telah memuat kiat Toni Turner dan Kathy Lien. Mengapa? Sebagai trader individu, ia paham betul posisinya di pasar. "Apa yang saya ajarkan dan saya praktekkan untuk trading saya sendiri sangat berbeda. Sebut saja saya curang atau munafik, tapi sementara klien-klien besar saya punya banyak dana untuk menahan posisi hingga berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan, uang saya tak cukup untuk mengikuti cara trading serupa." begitulah pendapatnya.

Tak dapat dipungkiri, Barbara Rockefeller adalah trader dengan banyak pengalaman dan keahlian. Tapi nyatanya, ia tak memilih sistem trading Big Picture yang lebih mengedepankan analisa jangka panjang. Menurutnya, "mengambil posisi jangka panjang dengan ukuran besar yang (barangkali) bisa mengubah arah market seperti Warren Buffet dan Soros memang menggoda. Mungkin juga tak ada trader yang tak pernah menginginkan harga bergerak sesuai prediksi. Tapi ingatlah pedoman trader sukses ini; jangan pedulikan kemana harga akan bergerak, observasi saja dimana ia sekarang bergerak dan ikuti dinamikanya."


Manajemen Time Frame

Dari sekian banyak tips trading jangka pendek di pasaran, Barbara memilih time frame (tf) sebagai komponen terpenting. Percaya atau tidak, ia baru merasakan sukses setelah memperkecil time frame-nya ke hitungan jam (H1, H4, dst.). Ya, untuk short-term trader, fokus pada tf rendah memang sangatlah penting. Sayangnya, mereka yang sudah sadar hal inipun kadang masih tertarik pada analisa jangka panjang. Tak jarang, mereka berusaha memasukkan paksa cara trading seperti itu ke dalam time frame kecil mereka. "Saya sudah berulang kali backtest berbagai macam trading rule, dan percayalah, 50% di antaranya tak bisa diterapkan di berbagai time frame," ungkapnya. Jadi, jika sudah memilih time frame rendah, usahakan untuk melengkapinya dengan strategi jangka pendek yang kompatibel.

Seberapa kecil tf yang bisa digunakan? Dalam hal ini, Barbara Rockefeller memperingatkan bahaya time frame super kecil untuk indikator teknikal. Ia rupanya sepakat dengan pendapat umum mengenai resiko noise pada time frame yang terlalu rendah. Barbara mengungkapkan bahwa menerapkan MA di time frame 1 menit adalah tindakan bodoh, begitu juga dengan penggunaan rule lain di time frame sejenis. Bahkan indikator yang dianggap terbaik pun tak akan ampuh di time frame super kecil. Untuk itu, ketahuilah batasan time frame dengan sebaik-baiknya. Pilih time frame di bawah D1, tapi jangan menjangkau solusi ekstrim seperti trading di time frame M1.


Andalkan Bar dan Candlestick

Satu lagi terobosan yang membuat karir tradingnya kian mantap adalah analisa bar. Bentuk sederhana dari candlestick ini telah menjadi andalan Barbara Rockefeller semenjak ia berhasil membukukan keuntungan lebih banyak selepas menulis bab mengenai bar di buku Technical Analysis for Dummies. Bagaimana dengan candlestick? Setelah menyelesaikan bagian itu, Barbara pun mengumpulkan lebih banyak keuntungan lagi!

Mungkin inilah yang disebut belajar sambil menulis. Melalui proses pembuatan bukunya, Barbara Rockefeller kembali menelaah fungsi bar serta aplikasinya dalam trading. Ia pun menemukan bahwa indikator harga ini punya 2 manfaat utama: Penyederhanaan dan basis indikator teknikal. Kegunaan pertama sangat bermanfaat saat mengalami kebuntuan analisa karena terlalu banyak indikator. Bagi short-term trader, pentingnya kesederhanaan teknik tak bisa dikesampingkan begitu saja.
"Apa urusan kita (trader jangka pendek) kalau harga bergerak melawan arah fundamental dan tren utama? Kita bukan trader fundamental dan tren besar bukanlah prioritas utama kita. Kita tidak cukup kaya untuk berbasis pada tren primer. Saat melihat reversal bearish dari serangkaian lower low dan lower high, atau pola bearish harami misalnya, kita tak harus peduli apa itu cuma koreksi atau perubahan trend utama. Sebagai trader jangka pendek, posisi kita tak bakal bertahan cukup lama untuk bisa merasakan dampak perubahan trend utama." demikian katanya.

grafik forex bar
Anatomi bar, jenis grafik harga andalan Barbara Rockefeller.

Bagaimana dengan manfaat kedua? Barbara Rockefeller berani mengatakan bar sebagai basis indikator teknikal karena menurutnya, bar harga jarang "berbohong". Dibanding indikator lain yang sinyalnya terlambat, dengan bar kita bisa mengenali market bullish ketika open bar saat ini berada dekat low bar sebelumnya, lalu kemudian ditutup dekat level high bar yang mendahuluinya. Disamping itu, Barbara Rockefeller juga berbagi hasil pengamatan selama ia bertrading di pasar forex.

"Seringkali, harga penutupan hari ini sama dengan close atau open di hari sebelumnya. Mengingat banyaknya pemain pasar yang terlibat dan aktif dari berbagai zona waktu dunia, ini bukanlah suatu kebetulan. Para trader sebenarnya mempermainkan pemain kecil, termasuk saya. Mereka boleh jadi menampilkan sentimen bullish atau bearish dengan jelas, tapi ketika harga bergerak mendatar atau close dekat level-level historis, maka kondisi menjadi sangat tidak pasti. Bayangkan seperti ini: Ada badai yang akan datang menghujani semua pihak, pemain besar atau kecil. Tapi bedanya, big players punya payung sementara trader recehan tidak. Karenanya, solusi terbaik adalah menjauh dari pasar hingga muncul informasi lebih jelas yang bisa dinterpretasikan," katanya.
pola candle engulfing
Selain bar, trader penulis buku The Global Trader (2001) ini juga menjagokan candlestick. Lebih deskriptif namun tak begitu prediktif, candlestick menurut Barbara tetaplah bermanfaat bagi short-term trader yang ingin mendapat kesederhanaan analisa pola grafik. Ia khususnya menunjuk pola engulfing sebagai sinyal paling bisa diandalkan, karena disamping bisa menunjukkan arah harga, trader juga dapat memperoleh petunjuk stop. Selain engulfing, Barbara Rockefeller juga mencermati pola harami, hanging man, serta gravestone doji sebagai bentuk-bentuk candle pilihan. Sebaliknya, ia memberikan label "tak bisa dipercaya" pada pola-pola tiga candle.


Konfirmasi Dengan Indikator

Bagi Barbara Rockefeller, fungsi indikator teknikal sebenarnya adalah sebagai konfirmator dari sinyal bar atau candle. Selain panduan dari objek-objek analisa sederhana seperti garis diagonal dan horizontal sebagai support resistance buatan sendiri, Barbara Rockefeller juga merekomendasikan indikator umum seperti SMA periode 10 atau 20. Selain itu, ia menambahkan bahwa indikator-indikator channel juga mempunyai peranan penting. "Saya suka Bollinger band, average true range (ATR) band, juga standard error channel. Ketika mereka semua tampil bersamaan di chart dan saling mengkonfirmasi, kita akan dapat melihat pola top dan bottom harga yang cukup valid. Tapi ingat, menentukan target tepat di posisi top dan bottom tersebut namanya serakah. Wajarnya, ambil target profit dan stop loss di dalam range channel," sarannya.

Lebih lanjut lagi, Barbara Rockefeller juga mencermati pentingnya update berita bagi trader jangka pendek. Meski semua pendekatan di atas lebih condong ke teknikal, tapi ia tak bisa memungkiri bahwa trader setidaknya perlu tahu rilis data fundamental agar tak buta arah. Bagaimanapun juga, analisa bar, candle, serta konfirmasi dengan indikator apapun nyatanya bisa tak mempan di kala ada rilis berita penting atau tak terduga.


Manfaatkan Pergantian Sesi Trading

Waktu trading forex yang bervariasi serta dibagi menjadi sesi-sesi tertentu ternyata juga bisa dimanfaatkan sebagai salah satu strategi trading jangka pendek. Prinsip mudahnya, jika reli pasar London berlanjut ke sesi New York, maka ikutlah kerumunan tersebut, tapi hanya jika trader Amerika mendorong terciptanya pola-pola higher high di awal sesi. Setelah itu, Anda punya waktu setidaknya 3 jam untuk mencari peluang profit. Karena setelahnya, likuiditas akan mulai mereda dan pasar New York bergerak lambat hingga menjelang dibukanya sesi Asia.

sesi pasar forex

Lalu bagaimana jika ternyata trader Amerika menolak bergabung dan justru melanjutkan pasar London dengan lower low? Jangan khawatir, masih ada kesempatan di sini. Kondisi seperti itu dinamakan kesempatan jual pada koreksi kecil. Untuk itu, sesuaikan target profit di level dekat jika Anda ingin tetap memperoleh keuntungan. Inilah poin positif jadi short-term trader yang tak terpaku pada pergerakan besar. Setiap perubahan kecil bisa jadi peluang. (Artikel ini ditulis oleh Galuh untuk seputarforex.com)

Aturan Main Strategi Breakout

Tak lupa, Barbara Rockefeller menunjukkan tips trading breakout untuk trader-trader seperti dirinya yang lebih suka bermain dalam jangka pendek. "Jika ada breakout harga dari level-level penting, seperti harga tertinggi harian atau mingguan, dan bar ditutup pada high, maka gunakan aturan buy high and sell higher." Sedangkan secara teknikal, trader yang memulai karirnya sejak tahun 1990 ini lagi-lagi menekankan pentingnya bar dalam mengantisipasi breakout. Seperti halnya candle, "bar kecil dengan sumbu-sumbu high low kecil mencerminkan ketidakpastian pasar, sedangkan bar berukuran besar berarti para trader sedang sangat percaya diri. Jika Anda menjumpai beberapa bar besar yang tiba-tiba diikuti dengan rangkaian bar mungil, maka berhati-hatilah! Penurunan volatilitas seperti itu biasanya pertanda breakout. Jika diperhatikan, ini hampir mirip dengan sinyal Bollinger Bands (indikator pengukur volatilitas) di time frame besar," begitulah ungkapnya.

Pesan Penutup

Barbara Rockefeller memang seorang trader yang cenderung berpandangan teknikal. Walaupun begitu, ia tak lupa menekankan bahwa tujuan utama seorang trader adalah untuk mendapatkan profit, bukan membuktikan sesuatu. "Sebuah sistem teknikal harus digunakan di semua kesempatan untuk membuktikan hasil backtest-nya. Tapi tujuan saya bukanlah mencari tahu apakah backtest saya valid, atau sistem sudah berhasil. Target saya adalah mendapat USD5,000 untuk memasang jendela baru di rumah. Kalau sudah ditargetkan seperti itu, maka manajemen resiko bukan lagi perkara rumit." Pesannya, jangan terburu obsesi mencari semua peluang yang ada hingga tak tahu tempat dan waktu. Tetaplah realistis dalam menggunakan analisa teknikal. Jika pasar dalam keadaan tak tentu, maka menjauhlah dan jangan paksa untuk bertrading.

Kini setelah Anda mengetahui tips-tips apa saja yang perlu diperhatikan dalam trading jangka pendek, sudah saatnya untuk mengaplikasikan pengetahuan di atas pada trading Anda. Namun jika masih belum memiliki strategi trading jangka pendek yang tepat, metode trading 10 pip per hari dari Hoosain Harneker berikut ini mungkin bisa menyediakan jalan keluar terbaik.
Share:

Trading Tanpa Loss Ala Marcelino Livian

Tidak banyak orang yang bisa mengumbar bahwa mereka mampu trading tanpa loss. Hal itu terdengar lebih seperti mimpi di siang bolong daripada suatu strategi trading. Namun demikian, salah satu master trader kelas dunia, yakni Marcelino Livian, mampu meraup keuntungan lebih dari 80% dalam masa empat tahun trading.
Trading Tanpa Loss Ala Marcelino
Marcelino Livian mengawali karirnya mulai tahun 90-an, satu dekade sebelum trading online marak. Kabarnya, ia begitu fokus dengan kegiatan trading-nya sehingga bahkan saat makan, topik trading menjadi bahan pembicaraan bersama keluarganya. Untuk hadiah ulang tahun anaknya pun, ia memberikan saham Microsoft. Kepada anak-anaknya, ia mengajarkan untuk "membiarkan uang bekerja kepada kita". Hal itu, menurutnya, akan lebih baik ketimbang membiarkan uang tersimpan di bank saja.

Dari sosok Marcelino Livian, kita mampu mempelajari beberapa hal yang akan dibutuhkan untuk menjadi seorang trader forex sukses. Diantaranya:

Miliki Modal Cukup

Selain pebisnis, Livian juga seorang entrepreneur. Ia memperlakukan trading sebagai bisnis, dan tidak ingin bisnisnya itu gulung tikar. Karenanya, ia menyiapkan modal yang cukup guna bertrading. Jadi, memiliki modal yang cukup adalah syarat utama untuk bertrading ala Marcelino Livian.
Kebanyakan trader biasanya memilih untuk membiarkan saja floating loss, tetapi terburu-buru menutup posisi ketika dalam kondisi floating profit. Akibatnya, saat terjadi loss, akun trading kerap kali hangus. Sebaliknya, Livian mampu menahan gejolak market selama satu tahun dengan bekal modal yang kuat. Dengan cara itu, ia bisa selalu menutup posisi dalam kondisi profit.

Beli Di Harga Rendah, Jual Di Harga Tinggi

Dari uraian sebelumnya dapat dilihat bahwa Livian termasuk trader jangka panjang (long-term trader). Akan tetapi, kunci terpenting strateginya adalah pada kemampuannya untuk menemukan histori level-level terendah dan tertinggi pada timeframe besar (D1 atau W1), serta membuka posisi secara bertahap hingga ia merasa sudah cukup (strategi averaging). Livian melangkah dengan hati-hati terkait dengan hal itu, tetapi bisa berubah agresif jika menemukan momen bagus untuk masuk ke market.

Jangan Rakus, Pasang Target Profit

Sifat rakus, atau serakah, merupakan salah satu sifat dasar manusia yang susah dikendalikan. Akan tetapi, jika kita memposisikan trading sebagai sebuah bisnis yang menjadi sumber mata pencaharian, maka pastinya kita akan bekerja lebih keras untuk menghindari kebangkrutan.

Tentang ini, Livian mengungkapkan bahwa ia selalu mengincar target profit 20% dari modal, dengan risiko yang paling minim. Katanya, "Saya tidak berjudi, saya juga tidak sedang main lotre. Saya datang ke Forex untuk berbisnis dan mencari uang." Angka 20% itu mungkin kedengarannya rendah. Tetapi kalau kita tengok lagi pelajaran pertamanya, maka tentu kita bisa membayangkan kalau keuntungan yang didapatnya tidaklah sedikit.

Kesimpulan

Dari Marcelino Livian bisa kita simpulkan bahwa "trading seharusnya dilihat sebagai suatu bisnis dimana uang 'bekerja' untuk kita, daripada membiarkannya duduk tersimpan di bank". Bank paling-paling hanya mampu memberikan bunga 5-10% saja, tetapi investasi akan menghasilkan keuntungan lebih besar.

Selain itu, penting untuk dicatat bahwa kekuatan modal itu penting dalam berinvestasi. Banyak bisnis, baik forex maupun bisnis lain, gagal karena kekurangan modal untuk menangani kesalahan-kesalahan yang dialami saat bisnis baru dimulai. Modal yang cukup akan memberi kita waktu untuk menghimpun pengalaman trading diluar akun demo dan membuat kesalahan-kesalahan saat masih belajar.

Singkirkan juga asumsi bahwa apabila bertrading maka suatu saat pasti akan loss. Realitanya, ada yang jarang sekali mengalami loss. Selama kita selalu memegang 3 poin diatas, kita akan bisa melakukan trading tanpa loss selama kita memiliki trik dalam hal Manajemen Modal Trading, menjaga kesehatan, dan tidak melakukan kesalahan yang tak perlu dilakukan.

Marcelino Livian bukan satu-satunya trader yang mencatatkan record trading mengesankan. Salah satu sosok profesional lainnya, Bill Lipschutz, dikenal memiliki track record trading yang juga sangat impresif, hingga membuatnya dijuluki Sultan Forex. Seperti apa cerita keberhasilan trading dan tips yang dibagikannya? Ikuti uraiannya dalam artikel: Kisah Sukses Sang Sultan Forex, Bill Lipschutz.
Share:

Benarkah Trading Forex Ilegal Di Sejumlah Negara?

Transaksi mata uang antar negara (forex) adalah pasar terbesar dan terluas di dunia, yang bisa memberikan kesempatan pada trader untuk mencapai kesuksesan bisnis dan meraih keuntungan dari trading mata uang. Trading forex, layaknya aktivitas lainnya, diliputi oleh beragam mitos dan kesalahpahaman yang bisa mempengaruhi setiap trader, terlepas dari seberapa lama ia bertrading di pasar ini.

Karena itu, tak heran bila banyak orang yang menepis keinginan untuk terjun sebagai trader forex. Mereka seolah yakin jika operasi pasar ini dilarang di negara tempat mereka tinggal, atau bahkan di seluruh dunia. Anggapannya, trading forex itu judi atau semacamnya. Padahal kenyataannya tidaklah demikian!
Benarkah Trading Forex Ilegal
Trading forex faktanya diperbolehkan di semua negara, di mana setiap individu dan entitas berbadan hukum diperbolehkan untuk memiliki mata uang asing atau hal-hal yang berkaitan dengannya (baik itu akun untuk transaksi mata uang, rekening untuk membeli mata uang asing di bank-bank, dsb.). Selain itu, jangan lupa bahwa para pelaku pasar forex tidak main-main ketika bertransaksi. Sebagian besar di antara mereka memiliki tujuan penting, apakah itu berkaitan dengan aktivitas ekspor impor, investasi berskala internasional, mengambil keuntungan dari perubahan harga, dan beragam kegiatan lainnya.

Regulasi Pasar Forex

Selain tujuan penting di atas, transaksi di pasar forex juga dijamin oleh adanya regulasi dari otoritas di berbagai negara. Broker-broker forex terpercaya yang menyediakan platform transaksi perdagangan untuk trader, biasanya telah memiliki lisensi khusus yang menyatakan bahwa layanan mereka telah diregulasi oleh otoritas resmi. Jadi, segala aktivitas yang terlibat di pasar finansial ini (termasuk broker forex dan Dealing Centre) merupakan entitas yang bisa disertifikasi untuk menunjukkan kredibilitasnya.

Sebagai contoh, regulator forex CySEC (Securities and Exchange Commission) yang berkantor pusat di Siprus, memiliki standar minimum untuk melindungi keamanan klien di broker-broker yang terdaftar di bawah regulasinya. Seringkali, perusahaan-perusahaan forex Offshore menggunakan CySEC sebagai standar umum untuk menjamin layanan mereka.

Sementara itu, AS malah memiliki berbagai macam regulator yang terdiri dari:
  • SEC: berfokus pada aset-aset sekuritas.
  • CTFC: regulator untuk pasar futures yang mencakup pula pasar forex.
  • NFA: asosiasi non-pemerintah yang meregulasi bursa futures, forex, dan produk derivatif lain.
  • FINKA: regulator independen untuk pasar finansial.
  • SIPC: berurusan dengan perlindungan investor.
Regulator resmi forex dari otoritas Swiss adalah FINMA yang mengawasi operasi pasar finansial di negara tersebut. Inggris memiliki FCA yang mengontrol layanan finansial di wilayahnya. Di Australia, pasar forex diregulasi oleh ASIC (Komisi yang mengatur Investasi dan Sekuritas). Sementara itu, regulasi finansial di Belize diatur oleh International Financial Services Commission (IFSC). Salah satu broker forex yang telah mendapat lisensi dari regulator ini adalah JustForex.

Untuk regulator-regulator di kawasan Eropa, berikut ini contohnya:
  • ESMA: regulator independen di Uni Eropa.
  • MIFID: aturan khusus yang menyelaraskan regulasi di sejumlah negara dalam Wilayah Ekonomi Eropa.
Salah satu mitos umum yang beredar di kalangan trader pemula adalah: forex dilarang di Amerika Serikat. Hal ini tentu saja tidak benar, karena seperti pada contoh di atas, negara tersebut bahkan sudah memiliki badan-badan regulator sendiri yang berurusan dengan trading forex. Anggapan itu barangkali berasal dari aturan broker forex di AS, yang memang disusun dengan sangat ketat dan benar-benar dipantau oleh otoritas negara tersebut.

Sebagai contoh, untuk bisa menyediakan layanan trading forex di AS, sebuah broker harus mengantongi lisensi yang diperlukan dan memiliki dana sebesar $20 juta (sebagai net capital). Selain itu, masyarakat AS dilarang trading di broker-broker yang tidak diregulasi di negara tersebut. Itulah sebabnya, broker-broker dari negara lain yang menghormati ketentuan itu, selalu memberikan peringatan di situs resmi masing-masing, bahwa layanan mereka tidak diperuntukkan bagi warga AS. Namun sebenarnya, aturan hukum di AS sendiri tidak melarang warganya untuk bertrading di pasar forex.
Peta regulator forex AS
Grafik perizinan trading forex di area Amerika Utara

Forex Dan Islam

Banyak orang meyakini jika forex dilarang di negara-negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam. Seperti halnya anggapan di atas, mitos ini tidaklah benar.

Hukum syariah Islam pada dasarnya melarang pemberian atau penerimaan bunga dalam segala bentuk. Alasan larangan ini berasal dari keyakinan bahwa penganut Islam seharusnya memberi hanya untuk memberi, bukan untuk mengharapkan suatu hal lain sebagai imbalan. Oleh karena itu, menurut kepercayaan mereka, trading forex seharusnya tidak dilarang; yang tidak diperbolehkan adalah Swap-nya.
Swap adalah biaya harian yang dikenakan pada trader, apabila ia memiliki posisi menginap di platform trading.
Untuk mengatasi kendala ini, banyak broker telah menciptakan solusi berupa akun Swap-Free atau Islami. Jadi dalam akun ini, segala komisi berbentuk bunga bisa ditiadakan. Dengan demikian, trader Muslim yang menggunakan akun Swap-Free tidak akan melanggar hukum syariah, dan forex pun bisa diakses oleh semua pihak.

Kesimpulannya, trading forex bukanlah suatu aktivitas yang dilarang. Terlebih lagi, semakin banyak trader baru yang mencoba berbisnis di pasar forex dan berjuang mendapatkan profit. Jika Anda mencari broker forex yang teregulasi dan memiliki akun Islami, Anda bisa mencoba layanan JustForex. Broker ini menawarkan kondisi trading yang menjanjikan, juga mendukung proses deposit dan withdrawal yang terpercaya.
Share:

Kisah Trader Sukses Ben Warwick

Sebagai pencetus Event-Trading, trader kawakan Ben Warwick selalu fokus pada reaksi pasar saat ada rilis suatu berita ekonomi. Bagaimana tekniknya meraih sukses? 

Trader kawakan dan penasehat investasi (investment advisor) Ben Warwick selalu fokus pada reaksi pasar saat ada rilis suatu berita ekonomi. Sementara para trader sedang mencari cara trading yang paling tepat dan profitable dengan analisa fundamental, analisa teknikal maupun kombinasi keduanya; Warwick malah mengembangkan cara tradingnya sendiri dengan apa yang dia sebut sebagai metode "Event Trading".
Ben Warwick
Tahun 1996, bukunya yang berjudul "Event Trading - profiting from economic reports and short-term market inefficiencies" diterbitkan dan mendapat sambutan baik dikalangan trader forex dan komoditi. Analis dan trader forex profesional mengatakan bahwa metode tersebut bisa mengenali titik awal atau titik puncak suatu trend, hingga bisa ditentukan point-point pembalikan arah pergerakan harga (reversal). Menurut mereka, "Event Trading" adalah teknik trading baru yang menarik, dan bisa dijadikan metode pendekatan ke-3 setelah pendekatan fundamental dan teknikal.

Bukan Sistem Yang Mengikuti Trend

Ben Warwick pertama kali mengenal dunia trading saat ia masih mahasiswa di University of North Carolina, dimana ia memperoleh gelar MBA-nya. Karena ia ingin serius di bisnis trading dan investasi, ia mempelajari dan meneliti tentang hasil-hasil yang mengejutkan di pasar saham.

Menggunakan referensi pasar saham di tahun 1970-an, Warwick menjelaskan, "ketika harga suatu saham naik melebihi yang diperkirakan analis dan pelaku pasar, harga saham tersebut akan cenderung naik terus hingga 60 hari ke depan. Hingga hari ini masih banyak fund manager yang trading dengan hasil-hasil yang mengejutkan ini."

"Saya kemudian mengambil ide tersebut untuk diterapkan pada jenis pasar yang berbeda, misalnya pasar futures atau pasar forex" katanya. Dari tahun ke tahun, Warwick selalu melakukan perbaikan pada metodenya sebelum akhirnya dituliskan dalam sebuah buku.

"Saya berusaha agar metode tersebut sistematis, dan yang penting bisa diterapkan dengan tanpa emosi. Event trading adalah sebuah sistem yang tidak linier, dan bukan sistem yang mengikuti trend (trend following). Metode ini adalah tentang bagaimana pasar merespon informasi, dan saya mengambil sebagian, yaitu bagaimana pasar bereaksi terhadap sebuah berita yang dirilis," Ben Warwick menjelaskan. 

Contoh penggunaan Event Trading misalnya yang terjadi pada pasar bond atau pasar forex saat rilis data Tenaga Kerja. "Jika pasar ternyata rally setelah rilis data dan ditutup 20% lebih tinggi dari range harga sebelum rilis, bagi saya itu adalah sinyal untuk buy. Tetapi yang paling krusial adalah pada harga berapa kita masuk. Jika Anda masuk pasar begitu saja saat rilis data diumumkan, wah, itu seperti halnya judi, kemungkinan untuk berhasil 50-50," kata Warwick.

"Reaksi pasar bisa saja bearish untuk rilis data yang Anda perkirakan bullish, dan Anda tentu masih bisa melihat sinyal sell. Cobalah untuk konsentrasi pada efisiensi reaksi pasar atas informasi tersebut," lanjutnya. Mengenai time frame trading, Warwick terbiasa dengan time frame Daily dan Weekly.

Penelitian Itu Penting

Sebagai penasehat investasi, Ben Warwick mengutamakan strategi penempatan asset dalam membuat sebuah portfolio investasi, mana yang investasi utama dan mana investasi alternatif. Pada tahun 2002, Warwick mengembangkan sebuah sistem yang dinamakan Quantitative Equity Strategies (QES).

Beberapa perusahaan dan institusi keuangan telah mengadopsi sistem ini guna memaksimalkan return, antara lain Hedge Fund Research di Chicago dengan sistem HFRq dan Nomura Bank dengan Nomura QES. Buku Warwick mengenai strategi investasi yang populer antara lain adalah "Searching for Alpha: The Quest for Exceptional Investment Performance" (Wiley, 2000)

Nasehat untuk para trader pemula? "Buatlah suatu pekerjaan rumah, mengenai penelitian atau statistik atau apa saja yang membuat Anda mengerti dan bisa mengidentifikasi pasar yang tidak efisien. Jika Anda telah menemukan dan yakin bagian mana dari pasar yang tidak efisien, pada jangka panjang dan jangka pendek, Anda tentu akan bisa menghasilkan profit dengan konsisten. Ya, bagi saya itulah kuncinya. Anda juga bisa melakukannya," kata Warwick.

Jika Ben Warwick mengutamakan Event Trading yang berbeda dari metode Trend Following, maka tidak demikian halnya dengan trader pelopor Ed Seykota. Dikenal mengawali era trading dengan komputer, Seykota adalah pengikut trend-follower sejati yang berhasil menghimpun kesuksesan dari tahun ke tahun. Bagaimanakah kisah perjalanan karir dan pelajaran trading apa yang dibagikannya? Ikuti uraiannya dalam artikel: Kisah Trader Sukses Ed Seykota, Trend Follower Sejati.

Share:

Bunga Bank Sentral