Cara Menghasilkan Profit Yang Konsisten

Ada bermacam-macam tools forex trading tersedia untuk para trader. Namun dengan banyaknya tools tersebut, mengapa masih banyak trader yang belum bisa mendapatkan keuntungan secara konsisten? Lalu jika tools tersebut tidak bisa membantu trader untuk sukses atau digunakan sebagai cara menghasilkan profit, apa yang bisa dilakukan?

Banyak orang beranggapan bahwa untuk menghasilkan profit konsisten, trader hanya perlu memadukan beberapa indikator tambahan saja seperti indikator Zigzag, Moving Average (MA), Relative Strength Index (RSI), dan semacamnya. Asalkan mau terus belajar, profit pasti kita dapatkan. Padahal, cara menghasilkan profit, apalagi yang konsisten, tidaklah sesederhana itu. Kemauan keras dan semangat pantang menyerah memang penting, tapi apalah gunanya jika senjata itu tidak diarahkan di jalan yang tepat?

Cara Menghasilkan Profit Konsisten
Sebenarnya, cara menghasilkan profit yang stabil dan konsisten sederhana saja.

Kuncinya bukan di teknik analisa ataupun sistem trading paling canggih, melainkan perilaku sabar dan tidak serakah.

Semudah itukah? Meski tampak gampang karena bersangkutan dengan kontrol diri masing-masing, menjadi trader yang sabar dan tidak serakah tidaklah semudah dugaan. Ketika Anda melihat fluktuasi harga yang naik turun dan memperhitungkan potensi keuntungan dari gejolak tersebut, pengendalian diri bukanlah hal utama yang akan Anda pikirkan; justru keinginan mencari peluang dan mengeruk profit-lah yang menjadi prioritas. Karena itu, ada cara trading tertentu yang bisa membantu kita meningkatkan kontrol diri, agar pada akhirnya dapat meraih profit konsisten.

1. Mengetahui Cara Kerja Pasar Forex

Percaya atau tidak, sikap kurang sabar dan serakah seringkali ditunjukkan oleh para trader yang kurang paham cara kerja pasar forex. Mereka juga kurang percaya diri dan selalu merasa khawatir jika kesempatan Entry atau meraih keuntungan akan lewat begitu saja apabila tidak diambil sekarang.

Hal ini tentu saja berbeda dengan para trader berpengalaman yang tahu benar jika pasar forex bukan tempat bagi orang-orang yang kurang sabaran. Kesempatan Entry akan selalu ada dan bertebaran di berbagai macam pair juga jam pasar forex. Jika tidak mendapat peluang saat ini, maka bisa mencari di sesi pasar berikutnya. Dengan pemahaman seperti ini, tentu akan lebih mudah untuk mengendalikan keinginan masuk pasar secara sembarangan.

2. Sistem Trading Yang Dijalankan Dengan Disiplin

Perangkat ini bisa dikatakan menjadi yang paling penting jika Anda ingin mencari cara menghasilkan profit konsisten. Tanpa adanya sistem trading, Anda tidak akan memiliki aturan-aturan yang bisa dipakai sebagai patokan, baik untuk membaca pergerakan harga, mengenali sinyal Entry, maupun mencari posisi Buy dan Sell yang tepat.

Sistem trading agar profit konsisten


Sistem trading mencakup metode analisa, strategi mencari posisi Entry, hingga manajemen risiko yang Anda gunakan. Setiap jenis sistem trading memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri. Perlu diketahui, pilihan sistem trading paling bagus atau buruk tergantung pada trader yang menggunakan, bukan sistem tradingnya. Hal itu karena tidak ada satupun sistem trading yang memuat strategi dengan potensi profit konsisten 100%; semua sistem pasti memiliki kelemahan dan risiko rugi, mengingat arah pergerakan pasar yang tidak bisa benar-benar diperkirakan arahnya.

Nah, Anda bisa meminimalisir risiko tersebut dengan memilih sistem trading yang tepat (sesuai gaya trading Anda), teruji, dan dijalankan dengan disiplin. Berikut langkah-langkahnya:
  1. Pertama-tama, Anda perlu mengenali karakter dalam bertrading, apakah agresif, konservatif, atau netral.
  2. Selanjutnya, pilih sistem trading yang sesuai dengan gaya Anda. Misalkan Anda ternyata tipe trader agresif yang menginginkan profit dalam waktu singkat dan bisa mengikuti pergerakan harga di time frame rendah, maka sistem trading dengan strategi scalping bisa menjadi pilihan.
  3. Setelah menemukan sistem yang sekiranya cocok, Anda masih belum disarankan untuk mengandalkannya untuk trading di akun Real. Sebelum itu, uji dulu bagaimana performanya di akun demo. Anda perlu mendapatkan data yang cukup untuk memastikan profitabilitas sistem tersebut, jadi pastikan agar tidak tergesa-gesa mengakhiri proses back-testing dan forward-testing yang Anda lakukan.
  4. Lihat bagaimana hasil uji coba sistem, jika profitabilitasnya baik, maka bisa Anda gunakan untuk trading. Namun apabila hasilnya buruk, lebih baik cari sistem trading lain yang sesuai dengan gaya trading Anda.
  5. Terapkan sistem trading dengan disiplin. Tahap ini merupakan yang paling penting dan perlu ditekankan, karena percuma saja Anda mempunyai sistem yang sesuai dan sudah teruji, apabila Anda tidak bisa menjalankannya dengan konsisten. Bagaimanapun juga, profit konsisten lahir dari disiplin menjalankan sistem trading yang Anda gunakan. Apabila masih suka melanggar aturan, maka jangan heran jika profit trading juga suka "melanggar ekspektasi" Anda.
Sebagai motivasi, Anda bisa mempelajari cara menguasai disiplin trading untuk mendapatkan profit konsisten lewat 25 aturan emas di e-book ini:
Ebook Disiplin Trading

3. Memiliki Harapan Realistis

Ketika mengetahui jika trading forex bisa menjadi sumber penghasilan, apakah Anda membayangkan bisa mendapat keuntungan sekian Dolar setiap minggu atau bulan? Jika ya, maka sebaiknya pahami ulang jika anggapan itu tidaklah realistis untuk seukuran pemula. Terlalu bertumpu pada target itu justru akan membuat Anda terjerumus dalam cara menghasilkan profit yang tidak disiplin. Bukannya mendapat profit konsisten, risiko trading Anda justru semakin besar.

Jika Anda sudah memahami risiko dalam pasar forex, maka Anda seharusnya tahu jika tak ada seorang pun yang bisa menduga kemana harga akan bergerak dengan akurasi 100%. Artinya, akan selalu ada faktor-faktor tak terduga yang membuat harga bergerak di luar perkiraan. Jika Anda mengharapkan keuntungan stabil, katakanlah $100 per minggu, maka sama saja artinya dengan mengekspektasikan pasar forex untuk selalu bergerak sesuai prediksi Anda.
Cara Menghasilkan Profit Konsisten Dengan Harapan yang Realistis
Apa yang terjadi jika harga ternyata tidak sesuai perkiraan dan Anda baru mendapat $40 menjelang akhir pekan? Bila terpacu pada target, Anda akan melakukan segala cara untuk mengejar sisa keuntungan $60 yang belum didapatkan. Mental trading seperti ini jelas sangat tidak direkomendasikan, karena membuka posisi trading seharusnya tidak dipaksakan apabila tidak ada sinyal yang terkonfirmasi. Masuk pasar tanpa sinyal yang jelas akan semakin menurunkan peluang profit, sehingga bukannya mendapat sisa target yang diharapkan, Anda justru berakhir dengan lebih banyak kerugian.

Lantas bagaimana solusinya? Apakah sebaiknya tidak memiliki target profit agar tidak terkekang oleh keharusan memanen keuntungan sekian Dolar dalam periode waktu tertentu? Sebenarnya, menerapkan target keuntungan sah-sah saja dilakukan, karena hal itu juga penting agar aktivitas trading Anda punya arah dan tujuan. Yang menjadi kunci perubahan di sini adalah besar target profit yang ditetapkan. Selain harus realistis sesuai kemampuan dan besar modal Anda, ada baiknya jika target profit ditetapkan dalam range.

Dengan cara ini, Anda bisa tetap memiliki target keuntungan, tapi tidak terpaku pada jumlah tertentu, karena besar profitnya ditetapkan dalam suatu kisaran yang lebih fleksibel. Jadi katakanlah Anda menargetkan profit antara $50-$100, maka Anda akan lebih mudah mentoleransi perubahan kondisi pasar yang membuat profitabilitas sistem trading tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Jika psikologi trading sudah lebih ringan, maka Anda akan lebih mudah mengontrol diri agar lebih sabar dan tidak serakah. pada akhirnya, keinginan untuk menyalahi aturan dengan masuk pasar di luar rencana juga akan terkikis dengan sendirinya. Anda pun bisa mengurangi risiko kerugian lebih besar dan berhasil memastikan profit konsisten sesuai target keuntungan.

Untuk lebih menajamkan pemahaman Anda terhadap cara menghasilkan profit konsisten dan strateginya, simak ulasan selengkapnya di artikel Sering Trading Tak Jamin Profit Konsisten, Ini Alasannya. Jika Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut mengenai bagaimana cara menjadi konsisten dalam trading, selain kolom komentar, Anda juga bisa langsung bertanya pada ahli kami pada forum tanya jawab khusus tips trading konsisten berikut.
Share:

Belajar Memahami Money Management

Money management adalah salah satu faktor penting dalam trading forex yang berkaitan dengan pengendalian resiko. Trading adalah bisnis dan dalam bisnis tentu ada resikonya. Berapapun besar modal kita, tentunya kita ingin membatasi besarnya resiko yang mungkin terjadi. Belajar memahami pengendalian resiko dengan benar adalah kunci sukses untuk menghasilkan profit yang konsisten dalam jangka panjang. Banyak trader pemula yang account-nya ‘babak belur’ karena tidak menerapkan money management dengan disiplin, bahkan ada yang tidak tahu sama sekali tentang money management. Dalam tulisan ini akan dibahas 5 hal pokok dalam money management yang harus dipahami dan diterapkan dengan benar dan disiplin dalam trading forex.

Belajar Memahami Money
  • Besarnya resiko per trade
Besar resiko per trade diukur dengan nilai uang, bukan dengan pips, dan biasanya ditentukan dalam persentase dari modal atau balance dalam account trading kita. Anggap saja kita belum ada posisi trading dan balance dalam account kita masih utuh, maka besar resiko per trade adalah jumlah kerugian yang kita tentukan dalam membuka sebuah posisi trading. Tidak ada ketentuan baku untuk hal ini dan bisa saja antara trader yang satu berbeda dengan trader yang lain, tergantung dari kondisi keuangan masing-masing. Yang jelas gunakanlah dana yang benar-benar tidak akan dipakai dalam waktu dekat, dan hindari trading forex dengan menggunakan dana untuk hidup sehari-hari. Asumsikan bahwa alokasi dana Anda untuk trading forex adalah dana yang siap hilang sehingga Anda tidak emosional ketika trading.

Sebagai gambaran, para trader profesional yang pendapatannya hanya dari trading (saham, forex, option dsb.) jarang yang mengambil resiko lebih dari 3% dari total modal mereka. Di sisi lain, banyak trader yang telah berpengalaman merekomendasikan besarnya resiko antara 3% sampai 5% dari modal. Tetapi berapapun besarnya resiko yang Anda tentukan, Anda harus merasa nyaman dengan pilihan tersebut sehingga Anda bisa trading dengan tenang dan tanpa emosi.

Nah, kenapa besar resiko diukur dengan nilai uang bukan dengan pip ? Hal ini berkaitan dengan besarnya ukuran lot atau volume per trade yang bakal kita gunakan sesuai dengan perhitungan resiko, atau lazim disebut position sizing yang akan dijelaskan berikut ini.

  • Besarnya ukuran lot per trade (position sizing)
Besar ukuran lot juga disebut dengan volume (pada platform Metatrader), atau ada yang menamakan quantity. Karena platform Metatrader sudah sangat populer, para trader forex pada umumnya lebih familiar dengan sebutan volume trading. Cara menentukan volume trading berdasarkan resiko lazim disebut dengan position sizing.

Dengan position sizing, besar resiko dalam nilai uang akan selalu sama berapapun besar stop loss (resiko dalam pip) yang kita tentukan. Volume trading bisa kita atur sesuai dengan besar stop loss yang paling pas buat kita. Sebagai contoh, misalnya kita trading dengan standard lot pada pasangan mata uang EUR/USD, sehingga nilai per pip-nya adalah USD 10. Jika kita punya balance sebesar USD 25,000, dan resiko yang kita tetapkan untuk membuka sebuah posisi adalah 4%, maka besar resiko kita adalah USD 25,000 X 4% = USD 1,000. Katakan dari hasil analisa kita stop loss yang paling pas adalah 50 pip, maka volume trading kita dalam standard lot adalah: USD 1,000 / (50 X USD 10) = 2 lot.

(Catatan: pialang forex di Indonesia ada yang menyebut standard lot dengan regular lot, dan account yang hanya untuk trading dengan standard lot disebut regular account)

Nah, jika ada 2 trader dengan modal yang berbeda tetapi menerapkan persentasi resiko yang sama dan stop loss (resiko dalam pip) yang sama pula, tentu ukuran lot keduanya berbeda. Trader yang modalnya lebih besar volume trading-nya akan lebih besar walaupun stop loss (resiko dalam pip) keduanya sama. Itulah sebabnya mengapa besarnya resiko per trade biasanya diukur dengan nilai uang, bukan dengan besarnya pip pada stop loss.

  • Besarnya risk/reward ratio
Risk/reward ratio adalah perbandingan antara besarnya resiko (stop loss) dan besarnya target profit (reward) yang kita tetapkan. Jika pada pembahasan sebelumnya kita telah menentukan resiko dan ukuran lot, maka langkah selanjutnya adalah menetapkan besarnya target profit yang kita inginkan dibandingkan dengan resiko yang telah kita tetapkan sebelumnya.

Sama halnya dengan resiko, untuk menetapkan target profit tidak ada ketentuan bakunya, hanya saja kita harus obyektif dan realistis sesuai dengan kondisi pasar saat itu. Trader yang berpengalaman menganjurkan agar risk/reward ratio sebaiknya minimal 1 : 2, artinya jika stop loss kita 50 pip maka sebaiknya target profit kita minimal 100 pip, bahkan kalau bisa 1 : 3 atau lebih akan semakin baik.

Tujuannya adalah: jika kita bisa menerapkan risk/reward ratio dengan konsisten, dalam jangka panjang akan diperoleh return (keuntungan) yang memadai walaupun persentasi profit kita secara keseluruhan masih lebih kecil dibanding loss-nya. Misalnya seorang trader mengalami 70% dari total posisinya loss, tapi masih menghasilkan return 15% dari total posisi tradingnya, karena menerapkan risk/reward ratio minimal 1 : 2 pada setiap membuka posisi.

Yang penting untuk dipahami dalam hal ini adalah menentukan besarnya resiko terlebih dahulu sebelum menghitung profit yang mungkin kita peroleh.

  • Money management harus bisa mengendalikan emosi kita
Di samping money management, faktor penting lainnya dalam trading adalah keterlibatan emosi. Kedua hal tersebut saling mempengaruhi dan jika tidak dipahami dengan benar akan membawa efek negatif dalam trading. Money management yang buruk bisa menghancurkan trading kita, demikian pula emosi yang tidak terkendali. Misalnya jika kita kurang memahami money management sehingga selalu loss pada setiap posisi trading kita, maka akan sulit bagi kita untuk tidak melibatkan emosi saat trading. Sebaliknya semakin baik kita bisa menerapkan money management dalam trading, akan semakin terkendali emosi kita dalam menyikapi hasil trading. Kita bisa dikatakan berhasil menerapkan money management bila kita bisa mengelola dana dalam account trading dengan efektif dan tidak emosional.

  • Money management akan berjalan baik hanya jika kita menguasai strategi trading
Jika kita tidak sepenuhnya menguasai strategi trading yang kita gunakan sehingga selalu ragu ketika hendak membuka posisi, maka sebaik apapun pemahaman kita pada money management hasilnya tidak akan maksimal.

Strategi trading dan money management adalah komponen utama dalam rencana trading yang harus dijalankan secara bersamaan. Money management akan berjalan baik hanya jika kita telah menguasai dan yakin pada strategi trading yang kita gunakan sehingga menghasilkan profit yang konsisten dalam jangka panjang.
Share:

Tips Managemen Modal Trading

Dengan anda memiliki teknik dalam menggunakan modal yang baik dan benar, maka keuntungan maupun kerugian dalam setiap kegiatan trading dapat anda kendalikan. Berikut ini beberapa contoh teknik dalam management modal:

manajemen

1. Pyramid
Jika pada cost averaging kita menambahkan satu posisi terbuka disetiap kali kita mengalami kerugian, maka dalam pyramiding kita menambah posisi terbuka setiap kali mendapatkan keuntungan. Berikut ini contoh yang dapat kita ambil sebagai bahan percobaan:

Pyramid - twps2 - pendulangforex
Pada gambar diatas dapat dilihat bahwa kita menambah satu posisi berukuran 1 lot setiap kali kita mendapatkan keuntungan sebesar 500 pips. Ketika harga turun dari level 1.51000 ke 1.50750, total keuntungan kita masih tersisa 750 pips. Di level ini kita bisa menutup seluruh posisi buy. Jika harga turun hingga mencapai level 1.50500, maka hasil seluruh transaksi kita akan impas. Teknik ini sangatlah bagus untuk kita pergunakan pada saat harga dalam keadaan trend.


2. Martingale
Dengan metode martingale, kita menambah posisi dua kali lipat dari transaksi sebelumnya disetiap kali kita mengalami kerugian. Contohnya:

Martingale - twps2 - pendulangforex
Pada contoh ini diperlihatkan bahwa seorang trader telah menambah posisi sell sebanyak dua kali pada posisi sebelumnya setiap kenaikan 500 pips. Seandainya harga masih naik ke 1.51500, maka si trader akan menambah posisi Sell sebanyak 8 Lot. Sementara itu, keuntungan akan diperoleh ketika harga kembali ke 1.50500. Sebetulnya yang perlu anda waspadai ialah jika harga terus semakin naik, karena kerugian yang diderita justru akan semakin besar. Teknik ini bagus jika dipergunakan pada saat pergerakan pasar sedang sideway.

3. Anti Martingale
Anti-martingale justru mirip dengan pyramid, dan merupakan kebalikan dari strategi martingale, yaitu kita menambah posisi terbuka dua kali lipat dari posisi yang sebelumnya dimana setiap kali mendapatkan keuntungan.

Anti Martingale - twps2 - pendulangforex
Kita harus selalu memperhatikan pergerakan harga, jangan sampai berbalik arah dimana akan membuat keuntungan yang sudah kita kumpulkan malah berubah menjadi loss. Teknik ini bagus untuk dipergunakan pada saat pergerakan pasar dalam keadaan trending.
Share:

Trading Tanpa Loss Ala Marcelino Livian

Tidak banyak orang yang bisa mengumbar bahwa mereka mampu trading tanpa loss. Hal itu terdengar lebih seperti mimpi di siang bolong daripada suatu strategi trading. Namun demikian, salah satu master trader kelas dunia, yakni Marcelino Livian, mampu meraup keuntungan lebih dari 80% dalam masa empat tahun trading.
Trading Tanpa Loss Ala Marcelino
Marcelino Livian mengawali karirnya mulai tahun 90-an, satu dekade sebelum trading online marak. Kabarnya, ia begitu fokus dengan kegiatan trading-nya sehingga bahkan saat makan, topik trading menjadi bahan pembicaraan bersama keluarganya. Untuk hadiah ulang tahun anaknya pun, ia memberikan saham Microsoft. Kepada anak-anaknya, ia mengajarkan untuk "membiarkan uang bekerja kepada kita". Hal itu, menurutnya, akan lebih baik ketimbang membiarkan uang tersimpan di bank saja.

Dari sosok Marcelino Livian, kita mampu mempelajari beberapa hal yang akan dibutuhkan untuk menjadi seorang trader forex sukses. Diantaranya:

Miliki Modal Cukup

Selain pebisnis, Livian juga seorang entrepreneur. Ia memperlakukan trading sebagai bisnis, dan tidak ingin bisnisnya itu gulung tikar. Karenanya, ia menyiapkan modal yang cukup guna bertrading. Jadi, memiliki modal yang cukup adalah syarat utama untuk bertrading ala Marcelino Livian.
Kebanyakan trader biasanya memilih untuk membiarkan saja floating loss, tetapi terburu-buru menutup posisi ketika dalam kondisi floating profit. Akibatnya, saat terjadi loss, akun trading kerap kali hangus. Sebaliknya, Livian mampu menahan gejolak market selama satu tahun dengan bekal modal yang kuat. Dengan cara itu, ia bisa selalu menutup posisi dalam kondisi profit.

Beli Di Harga Rendah, Jual Di Harga Tinggi

Dari uraian sebelumnya dapat dilihat bahwa Livian termasuk trader jangka panjang (long-term trader). Akan tetapi, kunci terpenting strateginya adalah pada kemampuannya untuk menemukan histori level-level terendah dan tertinggi pada timeframe besar (D1 atau W1), serta membuka posisi secara bertahap hingga ia merasa sudah cukup (strategi averaging). Livian melangkah dengan hati-hati terkait dengan hal itu, tetapi bisa berubah agresif jika menemukan momen bagus untuk masuk ke market.

Jangan Rakus, Pasang Target Profit

Sifat rakus, atau serakah, merupakan salah satu sifat dasar manusia yang susah dikendalikan. Akan tetapi, jika kita memposisikan trading sebagai sebuah bisnis yang menjadi sumber mata pencaharian, maka pastinya kita akan bekerja lebih keras untuk menghindari kebangkrutan.

Tentang ini, Livian mengungkapkan bahwa ia selalu mengincar target profit 20% dari modal, dengan risiko yang paling minim. Katanya, "Saya tidak berjudi, saya juga tidak sedang main lotre. Saya datang ke Forex untuk berbisnis dan mencari uang." Angka 20% itu mungkin kedengarannya rendah. Tetapi kalau kita tengok lagi pelajaran pertamanya, maka tentu kita bisa membayangkan kalau keuntungan yang didapatnya tidaklah sedikit.

Kesimpulan

Dari Marcelino Livian bisa kita simpulkan bahwa "trading seharusnya dilihat sebagai suatu bisnis dimana uang 'bekerja' untuk kita, daripada membiarkannya duduk tersimpan di bank". Bank paling-paling hanya mampu memberikan bunga 5-10% saja, tetapi investasi akan menghasilkan keuntungan lebih besar.

Selain itu, penting untuk dicatat bahwa kekuatan modal itu penting dalam berinvestasi. Banyak bisnis, baik forex maupun bisnis lain, gagal karena kekurangan modal untuk menangani kesalahan-kesalahan yang dialami saat bisnis baru dimulai. Modal yang cukup akan memberi kita waktu untuk menghimpun pengalaman trading diluar akun demo dan membuat kesalahan-kesalahan saat masih belajar.

Singkirkan juga asumsi bahwa apabila bertrading maka suatu saat pasti akan loss. Realitanya, ada yang jarang sekali mengalami loss. Selama kita selalu memegang 3 poin diatas, kita akan bisa melakukan trading tanpa loss selama kita memiliki trik dalam hal Manajemen Modal Trading, menjaga kesehatan, dan tidak melakukan kesalahan yang tak perlu dilakukan.

Marcelino Livian bukan satu-satunya trader yang mencatatkan record trading mengesankan. Salah satu sosok profesional lainnya, Bill Lipschutz, dikenal memiliki track record trading yang juga sangat impresif, hingga membuatnya dijuluki Sultan Forex. Seperti apa cerita keberhasilan trading dan tips yang dibagikannya? Ikuti uraiannya dalam artikel: Kisah Sukses Sang Sultan Forex, Bill Lipschutz.
Share:

Memilih Indikator

Memilih indikator teknikal adalah bentuk pencarian jati diri bagi seorang trader. Bagi trader pemula, mencari indikator teknikal adalah hal yang seru untuk dilakukan. Dalam kondisi menggebu-gebu dan rasa ingin tahu tinggi, mereka tidak akan segan bereksperimen dengan berbagai indikator yang ada.

Memilih indikator teknikal tepat tidak lepas dari keinginan utama trader untuk masuk pasar di situasi yang tepat, contohnya masuk sesuai dengan trend yang ada saat ini, bukan malah melawan trend. 
Memilih Indikator Teknikal
Seorang trader wajib melakukan entry berlandaskan analisa dan sistem trading yang digunakan. Jadi tidak boleh asal entry di pasar tanpa adanya alasan yang kuat. Jika dasar yang digunakan untuk entry adalah analisa teknikal, maka memilih indikator teknikal adalah hal yang penting dilakukan. Pertanyaannya, bagaimana cara memilih indikator teknikal paling tepat? Semua akan dibahas secara lengkap melalui penjelasan di bawah ini.

Kenapa Tidak Boleh Asal Open Posisi?

Kurangnya riset dan tidak adanya keinginan belajar membuat banyak trader melakukan entry secara asal-asalan atau mengira-ngira saja. Hal ini kerap terjadi pada trader baru yang benar-benar masih pemula dan tidak paham satu indikator pun. Lucunya lagi, mereka bahkan tidak tahu kalau chart itu bisa diubah menjadi Candlestick. Mereka melihat pergerakan chart dalam bentuk yang masih garis. Kurangnya pengetahuan tentang tipe chart ini menandakan bahwa masih banyak yang harus dipelajari oleh para pemula.

Perlu diketahui bahwa cara open position yang asal tebak seperti itu sama sekali tidak bisa dipertanggungjawabkan hasilnya. Di sinilah seorang trader perlu untuk memahami indikator dan masing-masing fungsinya. Namun kemudian, satu masalah kembali mencuat: saking banyaknya indikator yang tersedia dan perlu dipahami, beberapa trader malah kebingungan memilih indikator teknikal mana yang harus dipakai.

Tips Memilih Indikator Teknikal Andalan

Banyak yang kemudian bertanya ke teman-teman trader senior, indikator apa saja yang biasa mereka pakai. Namun hal tersebut tidak menyelesaikan masalah, karena asing-masing trader memilih indikator teknikal andalan yang berbeda-beda. Jadi makin bingung, kan? Lalu sebenarnya apa indikator yang paling baik?

Berikut ada beberapa saran yang bisa Anda ikuti dalam memilih indikator teknikal yang digunakan sebagai bahan analisa trading:

1. Pahami Plus Minus Tiap-Tiap Indikator

Pertama-tama, perlu dipahami bahwa Anda salah besar jika menganggap indikator bisa meningkatkan persentase profit. Yang tepat, indikator hanya berfungsi membantu trader mengidentifikasi arah trend yang sedang berlangsung saat ini. Jadi jangan harap ada indikator yang paling sempurna atau paling hebat dibandingkan yang lain.
Memilih Indikator Teknikal
Setiap indikator memiliki keunggulan dan kelemahannya masing-masing. Karena itu, gunakanlah waktu luang Anda untuk menelaah sendiri masing-masing keunggulan dan kelemahan dari indikator-indikator tersebut. Anda bisa melakukannya di hari libur pasar yakni Sabtu-Minggu, atau bisa juga mencari celah free time saat bersantai di rumah.

Secanggih dan seakurat apapun suatu indikator teknikal, mereka tidak akan mampu meramalkan kemana harga akan bergerak selanjutnya. Risiko fake signal (sinyal palsu) tetap akan membayangi Anda meski menggunakan indikator jenis apapun. 

2. Pilihlah Kombinasi Indikator Yang Tepat

Indikator pun terbagi menjadi beberapa fungsi, ada indikator untuk mengamati trend, ada pula untuk melihat momentum, dan ada yang untuk mengetahui Support Resistance. Jadi bagi Anda yang ingin memilih indikator teknikal secara tepat, alangkah baiknya jika memilih 3 indikator yang masing-masing menggambarkan trend, momentum, dan Support Resistance tersebut.

Pilihan indikator yang menggambarkan trend antara lain Moving Average dan Parabolic SAR. Untuk indikator tipe momentum, ada MACD (Moving Average Convergence Divergence), RSI (Relative Strength Index), ADX (Average Directional Movement Index), dan W%R (William Percent Range). Lalu untuk patokan Support dan Resistance, silahkan memakai perhitungan Pivot Point dan Fibonacci Retracement.

Ramuan dari ketiga indikator di atas setidaknya bisa dijadikan pedoman untuk mendapatkan gambaran tentang arah pergerakan chart, kekuatan dari sebuah trend, dan level penting yang bisa menjadi batasan-batasan pergerakan harga.

Contoh gabungan dari ketiga indikator di atas kurang lebih tampak sebagai berikut:
memilih indikator teknikal
Pada chart EUR/USD TF 4H di atas, terdapat 3 indikator (ditandai dengan garis warna hijau muda), yaitu Parabolic SAR, William Percentage Range, dan Fibonacci Retracement. Informasi apakah yang bisa didapatkan dari 3 indikator di atas?

Pertama, melalui indikator Parabolic SAR, Anda bisa melihat adanya titik bulat di bagian atas chart dan bawah chart. Munculnya titik di bagian atas chart menandakan pasar dalam kondisi downtrend. Sebaliknya, munculnya titik di bagian bawah chart menandakan pasar dalam kondisi uptrend. Pada gambar di atas, tampak titik terakhir muncul pada bagian atas, yang menandakan bahwa trend saat ini adalah Bearish.

Kedua, dari indikator W%R, Anda bisa menentukan momentum yang terjadi di pasar, apakah sedang overbought (jenuh beli) atau oversold (jenuh jual). Pada gambar di atas, pasar terlihat dalam kondisi oversold, ditandai dengan garis yang terdapat di bagian pojok kanan bawah menyentuh level W%R -80 hingga -100. Ini bisa menjadi isyarat bagi trader untuk melakukan entry Buy karena harga sudah masuk di titik oversold-nya.

Ketiga, nampak garis Fibonacci Retracement ditarik dari Low terendah ke High tertinggi pada chart. Dari sinilah trader bisa menemukan batas Support dan Resistance harga saat ini. Pada gambar di atas, setelah ditarik garis Fibonacci, terlihat titik Support terdekat berada pada area 50.0%, sedangkan titik Resistance terdekat berada pada level 23.6%.

Dari pembacaan di atas, dapat disimpulkan bahwa meskipun trend harga sedang turun, tapi momentumnya justru sudah jenuh jual. Ini artinya, harga masih memiliki kekuatan untuk naik ke atas. Anda bisa mencari peluang buy ketika harga sudah terkonfirmasi memantul dari level Fibonacci 50.0%.

3. Lakukan Backtest Untuk Menguji Indikator

Saat memasang suatu indikator pada chart trading, parameter yang muncul pada indikator tersebut adalah parameter default. Contohnya jika Anda menggunakan indikator Stochastic, maka parameter standarnya adalah 5,3,3. Lalu untuk indikator RSI, parameter default-nya adalah 14. Di sini, Anda bebas menggunakan parameter default tersebut, atau Anda bisa mengubah parameternya sesuai kebutuhan. Supaya bisa menemukan parameter indikator yang ideal, Anda bisa melakukan Backtest.

Pertama, set terlebih dahulu berapa angka parameter yang diinginkan. Kemudian, lakukan Backtest sebanyak 200 kali trading. Jika 150 trading loss dan 50 lainnya profit, maka Win-to-Loss Ratio Anda adalah 25:75. Anda bisa mempertimbangkan untuk set parameter indikator tersebut di angka lainnya, sampai menemukan Win-to-Loss Ratio yang diinginkan.

4. Pilih Indikator Alternatif Selain Bawaan Metarader

Bank Indikator merupakan surganya para teknikalis untuk memilih indikator teknikal unik yang tidak ada di MetaTrader 4. Silahkan melakukan riset sebanyak mungkin di bank indikator tersebut supaya menemukan indikator yang sesuai dengan setup trading Anda.

Memilih indikator teknikal unik yang menurut Anda potensial sebenarnya boleh-boleh saja. Asalkan indikator tersebut benar-benar sudah teruji dan bisa membantu Anda meraih profit yang diinginkan. Yang terpenting, kunci sukses dalam trading tidak terletak pada indikator apa yang Anda gunakan, tapi tentang bagaimana kemampuan Anda untuk memanfaatkan indikator tersebut secara maksimal.

Akhir Kata

Itulah beberapa saran yang bisa Anda lakukan saat memilih indikator teknikal. Sekali lagi, semua indikator pada hakikatnya sama baiknya, yang terpenting adalah bagaimana pemahaman Anda mengenai indikator tersebut. Tentu mempelajari indikator memerlukan ketelatenan tersendiri. Tapi selama Anda enjoy melakukannya, semua akan terasa seru dan mengasyikan. Trading forex itu sebetulnya seru, kok.

Tak perlu berlama-lama lagi, segeralah memilih indikator teknikal yang sesuai dengan gaya trading Anda. Jika sudah menemukannya, jangan bersuka hati dulu. Masih ada satu PR yang harus dilakukan, yakni menggunakan indikator tersebut sesuai pedoman yang tepat. Untuk itu, silahkan mempelajarinya melalui artikel kami berjudul 10 Acuan Menggunakan Indikator Teknikal Dari Barbara Rockefeller.
Share:

Memahami Dan Memanfaatkan Korelasi Dua Pair

Seperti yang sudah diketahui, trading forex selalu memperdagangkan mata uang dalam pair (berpasangan). Harga antar pair, terutama pair dengan komponen mata uang yang sama, tentunya mempunyai korelasi yang relatif erat antara satu dengan yang lain. Mari kita ambil contoh pada pair EUR/USD dan GBP/USD. Kedua mata uang terakhir dalam pair tersebut adalah USD, sehingga dapat dikatakan bahwa pair EUR/USD pasti berhubungan dengan pair GBP/USD. Lantas, apakah kegunaan dari memahami korelasi dua pair dalam forex tersebut? Simak ulasannya di bawah ini.

Memahami Korelasi Dua Pair

Dalam statistik, korelasi adalah hubungan yang terukur antara dua besaran pada suatu waktu. Nilai korelasi secara umum berkisar antara -1 dan 1. Korelasi -1 berarti kedua pair tersebut memiliki hubungan negatif sempurna, artinya pair tersebut bergerak dengan arah yang selalu berlawanan. Apabila salah satunya naik, maka satunya akan turun.
Korelasi negatif juga dapat bernilai lebih dari -1 dengan kecenderungan yang sama dengan nilai -1 (semakin kecil nilai korelasi negatifnya, semakin besar jarak perbedaaannya). Contoh pair berkorelasi negatif dapat dilihat pada EUR/USD (garis biru) dan USD/CHF (garis hijau) berikut ini:
korelasi negatif

Sebaliknya, korelasi 1 berarti kedua pair memiliki hubungan yang positif sempurna, dimana keduanya bergerak dengan arah yang selalu sama. Apabila satu pair naik, pair yang lain juga akan naik. Jika nilai korelasi positif lebih dari 1, maka kedua pair cenderung bergerak ke arah yang sama pula (semakin besar nilai korelasi positifnya, semakin dekat dan akurat kesamaan geraknya). Contoh pair dengan korelasi positif dapat dilihat pada EUR/USD (garis biru) dan GBP/USD (garis merah) berikut:
korelasi positif

Manfaat Korelasi Dua Pair Dalam Forex

Bagi trader pemula alias newbie, memahami manfaat korelasi dua pair dalam forex itu penting. Mengapa demikian? Korelasi dua pair dapat digunakan untuk menentukan open posisi, apakah akan Buy atau Sell. Biasanya, trader akan melakukan trading di pair yang memiliki korelasi kuat, baik itu positif maupun negatif. Mari kita ambil contoh pada EUR/USD dan GBP/USD. Antara EUR/USD dan GBP/USD memiliki korelasi positif dan relatif tinggi, sehingga kecenderungan yang terjadi apabila pair EUR/USD bergerak naik, maka pair GBP/USD juga bergerak naik. Karena sifat korelasinya inilah kemudian banyak trader yang memperdagangkan kedua pair ini secara bersamaan.
Pair "bersaudara" yang mempunyai korelasi tinggi seperti ini bisa digunakan juga apabila kita ingin melakukan hedging, yaitu trading dengan dua posisi atau lebih pada saat yang sama, di mana tujuannya adalah untuk mengimbangi kerugian di posisi pertama. Dalam hal ini, hedging dapat diambil sebagai alternatif untuk diversifikasi risiko. Trader dapat mencari dua pasangan mata uang yang berkorelasi, baik positif ataupun negatif. Kemudian membuka posisi pada keduanya untuk diversifikasi risiko, misalnya pada pair EUR/USD dan GBP/USD.
Ketika Dolar AS cenderung Bearish (melemah), maka trader dapat membuka posisi Buy sebesar 1 lot pada EUR/USD, dan sell 1 lot pada GBP/USD. Risikonya boleh jadi akan lebih ringan dibanding jika trader hanya melakukan Buy 2 lot pada EUR/USD saja, yang bisa langsung hangus ketika Dolar AS mendadak menguat di luar dugaan.
diversifikasi risiko
Selain beberapa pair mata uang di atas, korelasi positif juga banyak ditemukan pada mata uang komoditas (Comodity Dollar, Dolar Komoditas). Dolar komoditas adalah sebutan bagi mata uang suatu negara yang sangat bergantung pada ekspor komoditinya, bisa hasil tambang atau hasil bumi. Pair yang dikategorikan sebagai Comdoll adalah AUD/USD, USD/CAD dan NZD/USD. Selain itu, Gold (emas) atau XAU/USD serta perak atau XAG/USD juga dikategorikan sebagai pasangan mata uang komoditi, karena base currency keduanya adalah komoditi yang diperdagangkan dalam USD. 
Semua mata uang komoditi mempunyai korelasi positif dengan komoditi yang dihasilkan negara asalnya. AUD/USD berkorelasi positif dengan XAU/USD, karena Australia merupakan salah satu eksportir bahan tambang terbesar di dunia; sedangkan USD/CAD berkorelasi positif dengan harga minyak mentah dunia, karena Kanada adalah salah satu negara produsen dan eksportir minyak.

Penutup

Korelasi antar pair biasanya bersifat dinamis dan berubah setiap saat. Kita bisa mengamati korelasi beberapa hari terakhir dan membandingkannya dengan nilai korelasi dalam jangka panjang, misalnya satu tahun. Dalam hal ini, trader sebaiknya selalu up-to-date dengan informasi terbaru terkait korelasi pair forex. Hal ini karena nilai korelasi dua pair dapat berubah-ubah secara rutin, sehingga Anda perlu senantiasa memperbarui strategi trading sesuai dengan nilai korelasi pair terbaru.
Tabel korelasi pair
Contoh Tabel Korelasi Pair
Tanpa adanya pemahaman korelasi dua pair saat membuka posisi trading, maka risiko yang timbul bisa jadi semakin besar. Misalnya, Anda ceroboh open buy pada EUR/USD dan GBP/USD. Ketika Dolar melemah, maka kedua posisi tersebut akan sama-sama loss. Hal ini tentu akan berbeda jika Anda memahami hubungan kedua pasangan mata uang tersebut yang bernilai positif.
Melakukan trading dengan dasar dinamika korelasi dua pair pada dasarnya butuh ketelatenan tersendiri sih. Yah, tapi setidaknya bisa menjadi alternatif dasar pengambilan keputusan dalam bertrading. Good Luck!

Uraian di atas adalah tentang korelasi dua pair forex beserta fungsinya dalam trading. Kira-kira, pair mata uang mana sajakah yang paling banyak diperdagangkan dalam forex? Simak ulasan selengkapnya dalam artikel Pasangan Mata Uang Dalam Forex dan Korelasinya.
Share:

Benarkah Trading Forex Ilegal Di Sejumlah Negara?

Transaksi mata uang antar negara (forex) adalah pasar terbesar dan terluas di dunia, yang bisa memberikan kesempatan pada trader untuk mencapai kesuksesan bisnis dan meraih keuntungan dari trading mata uang. Trading forex, layaknya aktivitas lainnya, diliputi oleh beragam mitos dan kesalahpahaman yang bisa mempengaruhi setiap trader, terlepas dari seberapa lama ia bertrading di pasar ini.

Karena itu, tak heran bila banyak orang yang menepis keinginan untuk terjun sebagai trader forex. Mereka seolah yakin jika operasi pasar ini dilarang di negara tempat mereka tinggal, atau bahkan di seluruh dunia. Anggapannya, trading forex itu judi atau semacamnya. Padahal kenyataannya tidaklah demikian!
Benarkah Trading Forex Ilegal
Trading forex faktanya diperbolehkan di semua negara, di mana setiap individu dan entitas berbadan hukum diperbolehkan untuk memiliki mata uang asing atau hal-hal yang berkaitan dengannya (baik itu akun untuk transaksi mata uang, rekening untuk membeli mata uang asing di bank-bank, dsb.). Selain itu, jangan lupa bahwa para pelaku pasar forex tidak main-main ketika bertransaksi. Sebagian besar di antara mereka memiliki tujuan penting, apakah itu berkaitan dengan aktivitas ekspor impor, investasi berskala internasional, mengambil keuntungan dari perubahan harga, dan beragam kegiatan lainnya.

Regulasi Pasar Forex

Selain tujuan penting di atas, transaksi di pasar forex juga dijamin oleh adanya regulasi dari otoritas di berbagai negara. Broker-broker forex terpercaya yang menyediakan platform transaksi perdagangan untuk trader, biasanya telah memiliki lisensi khusus yang menyatakan bahwa layanan mereka telah diregulasi oleh otoritas resmi. Jadi, segala aktivitas yang terlibat di pasar finansial ini (termasuk broker forex dan Dealing Centre) merupakan entitas yang bisa disertifikasi untuk menunjukkan kredibilitasnya.

Sebagai contoh, regulator forex CySEC (Securities and Exchange Commission) yang berkantor pusat di Siprus, memiliki standar minimum untuk melindungi keamanan klien di broker-broker yang terdaftar di bawah regulasinya. Seringkali, perusahaan-perusahaan forex Offshore menggunakan CySEC sebagai standar umum untuk menjamin layanan mereka.

Sementara itu, AS malah memiliki berbagai macam regulator yang terdiri dari:
  • SEC: berfokus pada aset-aset sekuritas.
  • CTFC: regulator untuk pasar futures yang mencakup pula pasar forex.
  • NFA: asosiasi non-pemerintah yang meregulasi bursa futures, forex, dan produk derivatif lain.
  • FINKA: regulator independen untuk pasar finansial.
  • SIPC: berurusan dengan perlindungan investor.
Regulator resmi forex dari otoritas Swiss adalah FINMA yang mengawasi operasi pasar finansial di negara tersebut. Inggris memiliki FCA yang mengontrol layanan finansial di wilayahnya. Di Australia, pasar forex diregulasi oleh ASIC (Komisi yang mengatur Investasi dan Sekuritas). Sementara itu, regulasi finansial di Belize diatur oleh International Financial Services Commission (IFSC). Salah satu broker forex yang telah mendapat lisensi dari regulator ini adalah JustForex.

Untuk regulator-regulator di kawasan Eropa, berikut ini contohnya:
  • ESMA: regulator independen di Uni Eropa.
  • MIFID: aturan khusus yang menyelaraskan regulasi di sejumlah negara dalam Wilayah Ekonomi Eropa.
Salah satu mitos umum yang beredar di kalangan trader pemula adalah: forex dilarang di Amerika Serikat. Hal ini tentu saja tidak benar, karena seperti pada contoh di atas, negara tersebut bahkan sudah memiliki badan-badan regulator sendiri yang berurusan dengan trading forex. Anggapan itu barangkali berasal dari aturan broker forex di AS, yang memang disusun dengan sangat ketat dan benar-benar dipantau oleh otoritas negara tersebut.

Sebagai contoh, untuk bisa menyediakan layanan trading forex di AS, sebuah broker harus mengantongi lisensi yang diperlukan dan memiliki dana sebesar $20 juta (sebagai net capital). Selain itu, masyarakat AS dilarang trading di broker-broker yang tidak diregulasi di negara tersebut. Itulah sebabnya, broker-broker dari negara lain yang menghormati ketentuan itu, selalu memberikan peringatan di situs resmi masing-masing, bahwa layanan mereka tidak diperuntukkan bagi warga AS. Namun sebenarnya, aturan hukum di AS sendiri tidak melarang warganya untuk bertrading di pasar forex.
Peta regulator forex AS
Grafik perizinan trading forex di area Amerika Utara

Forex Dan Islam

Banyak orang meyakini jika forex dilarang di negara-negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam. Seperti halnya anggapan di atas, mitos ini tidaklah benar.

Hukum syariah Islam pada dasarnya melarang pemberian atau penerimaan bunga dalam segala bentuk. Alasan larangan ini berasal dari keyakinan bahwa penganut Islam seharusnya memberi hanya untuk memberi, bukan untuk mengharapkan suatu hal lain sebagai imbalan. Oleh karena itu, menurut kepercayaan mereka, trading forex seharusnya tidak dilarang; yang tidak diperbolehkan adalah Swap-nya.
Swap adalah biaya harian yang dikenakan pada trader, apabila ia memiliki posisi menginap di platform trading.
Untuk mengatasi kendala ini, banyak broker telah menciptakan solusi berupa akun Swap-Free atau Islami. Jadi dalam akun ini, segala komisi berbentuk bunga bisa ditiadakan. Dengan demikian, trader Muslim yang menggunakan akun Swap-Free tidak akan melanggar hukum syariah, dan forex pun bisa diakses oleh semua pihak.

Kesimpulannya, trading forex bukanlah suatu aktivitas yang dilarang. Terlebih lagi, semakin banyak trader baru yang mencoba berbisnis di pasar forex dan berjuang mendapatkan profit. Jika Anda mencari broker forex yang teregulasi dan memiliki akun Islami, Anda bisa mencoba layanan JustForex. Broker ini menawarkan kondisi trading yang menjanjikan, juga mendukung proses deposit dan withdrawal yang terpercaya.
Share:

Kisah Trader Sukses Ben Warwick

Sebagai pencetus Event-Trading, trader kawakan Ben Warwick selalu fokus pada reaksi pasar saat ada rilis suatu berita ekonomi. Bagaimana tekniknya meraih sukses? 

Trader kawakan dan penasehat investasi (investment advisor) Ben Warwick selalu fokus pada reaksi pasar saat ada rilis suatu berita ekonomi. Sementara para trader sedang mencari cara trading yang paling tepat dan profitable dengan analisa fundamental, analisa teknikal maupun kombinasi keduanya; Warwick malah mengembangkan cara tradingnya sendiri dengan apa yang dia sebut sebagai metode "Event Trading".
Ben Warwick
Tahun 1996, bukunya yang berjudul "Event Trading - profiting from economic reports and short-term market inefficiencies" diterbitkan dan mendapat sambutan baik dikalangan trader forex dan komoditi. Analis dan trader forex profesional mengatakan bahwa metode tersebut bisa mengenali titik awal atau titik puncak suatu trend, hingga bisa ditentukan point-point pembalikan arah pergerakan harga (reversal). Menurut mereka, "Event Trading" adalah teknik trading baru yang menarik, dan bisa dijadikan metode pendekatan ke-3 setelah pendekatan fundamental dan teknikal.

Bukan Sistem Yang Mengikuti Trend

Ben Warwick pertama kali mengenal dunia trading saat ia masih mahasiswa di University of North Carolina, dimana ia memperoleh gelar MBA-nya. Karena ia ingin serius di bisnis trading dan investasi, ia mempelajari dan meneliti tentang hasil-hasil yang mengejutkan di pasar saham.

Menggunakan referensi pasar saham di tahun 1970-an, Warwick menjelaskan, "ketika harga suatu saham naik melebihi yang diperkirakan analis dan pelaku pasar, harga saham tersebut akan cenderung naik terus hingga 60 hari ke depan. Hingga hari ini masih banyak fund manager yang trading dengan hasil-hasil yang mengejutkan ini."

"Saya kemudian mengambil ide tersebut untuk diterapkan pada jenis pasar yang berbeda, misalnya pasar futures atau pasar forex" katanya. Dari tahun ke tahun, Warwick selalu melakukan perbaikan pada metodenya sebelum akhirnya dituliskan dalam sebuah buku.

"Saya berusaha agar metode tersebut sistematis, dan yang penting bisa diterapkan dengan tanpa emosi. Event trading adalah sebuah sistem yang tidak linier, dan bukan sistem yang mengikuti trend (trend following). Metode ini adalah tentang bagaimana pasar merespon informasi, dan saya mengambil sebagian, yaitu bagaimana pasar bereaksi terhadap sebuah berita yang dirilis," Ben Warwick menjelaskan. 

Contoh penggunaan Event Trading misalnya yang terjadi pada pasar bond atau pasar forex saat rilis data Tenaga Kerja. "Jika pasar ternyata rally setelah rilis data dan ditutup 20% lebih tinggi dari range harga sebelum rilis, bagi saya itu adalah sinyal untuk buy. Tetapi yang paling krusial adalah pada harga berapa kita masuk. Jika Anda masuk pasar begitu saja saat rilis data diumumkan, wah, itu seperti halnya judi, kemungkinan untuk berhasil 50-50," kata Warwick.

"Reaksi pasar bisa saja bearish untuk rilis data yang Anda perkirakan bullish, dan Anda tentu masih bisa melihat sinyal sell. Cobalah untuk konsentrasi pada efisiensi reaksi pasar atas informasi tersebut," lanjutnya. Mengenai time frame trading, Warwick terbiasa dengan time frame Daily dan Weekly.

Penelitian Itu Penting

Sebagai penasehat investasi, Ben Warwick mengutamakan strategi penempatan asset dalam membuat sebuah portfolio investasi, mana yang investasi utama dan mana investasi alternatif. Pada tahun 2002, Warwick mengembangkan sebuah sistem yang dinamakan Quantitative Equity Strategies (QES).

Beberapa perusahaan dan institusi keuangan telah mengadopsi sistem ini guna memaksimalkan return, antara lain Hedge Fund Research di Chicago dengan sistem HFRq dan Nomura Bank dengan Nomura QES. Buku Warwick mengenai strategi investasi yang populer antara lain adalah "Searching for Alpha: The Quest for Exceptional Investment Performance" (Wiley, 2000)

Nasehat untuk para trader pemula? "Buatlah suatu pekerjaan rumah, mengenai penelitian atau statistik atau apa saja yang membuat Anda mengerti dan bisa mengidentifikasi pasar yang tidak efisien. Jika Anda telah menemukan dan yakin bagian mana dari pasar yang tidak efisien, pada jangka panjang dan jangka pendek, Anda tentu akan bisa menghasilkan profit dengan konsisten. Ya, bagi saya itulah kuncinya. Anda juga bisa melakukannya," kata Warwick.

Jika Ben Warwick mengutamakan Event Trading yang berbeda dari metode Trend Following, maka tidak demikian halnya dengan trader pelopor Ed Seykota. Dikenal mengawali era trading dengan komputer, Seykota adalah pengikut trend-follower sejati yang berhasil menghimpun kesuksesan dari tahun ke tahun. Bagaimanakah kisah perjalanan karir dan pelajaran trading apa yang dibagikannya? Ikuti uraiannya dalam artikel: Kisah Trader Sukses Ed Seykota, Trend Follower Sejati.

Share:

Uang Digital Bank Sentral Bisa Ganggu Stabilitas

Bank Sentral Korea mengaku tidak tertarik merilis mata uang digitalnya sendiri. Menurut pengujian yang baru mereka lakukan, uang tersebut memiliki banyak dampak negatif. 

Bank of Korea (BoK) memperingatkan bahwa mata uang digital yang didukung negara secara resmi akan mengancam stabilitas keuangan nasional. Dalam sebuah laporan, Bank sentral Korea Selatan tersebut mengatakan jika uang digital bank sentral atau CBDC (Central Bank Digital Currency), dapat berakibat buruk pada likuiditas dan pengaturan suku bunga.
Mata uang digital Bank Sentral Korea Selatan

Sekilas Tentang Asal-Usul CBDC Dan Perkembangannya

Transaksi cashless (tanpa uang tunai) telah melonjak di seluruh dunia dalam beberapa tahun terakhir. Bitcoin misalnya, diciptakan untuk menantang sistem keuangan konvensional dan mengembalikan kepemilikan uang kepada rakyat.

Akan tetapi, visi itu tidak disenangi oleh para pakar keuangan global yang masih percaya pada sistem konvensional. Karena itu, tidak mengherankan jika banyak ahli menyuarakan pandangan negatif mereka tentang kripto, dan menyerukan regulasi yang lebih ketat untuk mengatur penggunaannya.

Selain regulasi terhadap kripto yang sudah ada, salah satu alternatif yang dihadirkan untuk menghadapi "tantangan" Bitcoin dkk. adalah CBDC. Dibangun di Blockchain, CBDC biasanya dikeluarkan oleh pihak bank sentral dan bisa difungsikan seperti uang fiat. Bank Sentral yang melirik potensi CBDC kebanyakan ingin menarik minat masyarakat penggemar teknologi Blockchain, tapi tetap melakukannya di dalam koridor pengaturan dan pengawasan konvensional. Beberapa contoh Bank Sentral yang sudah lama diberitakan berminat menerbitkan CBDC adalah Bank of England (BoE) dan People's Bank of China (PBoC).

Bank of Korea Sudah Melakukan Pengujian

Pada akhir Januari lalu, Bank of Korea telah mengungkapkan bahwa mereka tidak tertarik untuk mengeluarkan mata uang digital yang didukung pemerintah dalam waktu dekat. Selain karena risikonya, mereka menilai jika tidak ada kebutuhan mendesak untuk mengorbitkan CBDC.

Sekarang, Korea Selatan justru sedang melakukan studi tentang bagaimana penerapan CBDC di ekosistemnya, dengan menekankan risikonya terhadap likuiditas dan suku bunga. Hasilnya, BoK menyimpulkan bahwa penggunaan CBDC dalam sistem keuangan Korsel hanya akan memicu lonjakan suku bunga dan krisis likuiditas.

Menurut sebuah artikel surat kabar yang diterbitkan di Korea Times pada awal Februari ini, BoK menjelaskan bahwa:
"Pengenalan CBDC akan menggantikan setoran permintaan yang dipegang oleh bank komersial lokal. Lebih lanjut, orang-orang kemungkinan akan lebih memilih mata uang kripto yang disponsori negara, yang mereka anggap lebih aman daripada unit fiat dan domestik."
Penemuan ini membuat salah satu penulis laporan BoK yang bernama Kwon Oh-ik, berpendapat jika Bank Sentral harus lebih berhati-hati dan menganalisis setiap konsekuensi negatif dari penerbitan CBDC.

Share:

Bunga Bank Sentral